Sabtu, 23 Juni 2012

Teknik Pembenihan dan Budidaya Ikan Tambakan


I. PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Ikan Tambakan (Helostoma temmincki) di beberapa daerah dikenal sebagai ikan Terbakan (Jawa Barat), Tambakan (Jawa Tengah), Tambakalang (Jambi), ikan Sapil (Sumsel), dan Biawan (Kalimantan) merupakan ikan sungai atau rawa yang cocok dipelihara di kolam yang sirkulasi airnya kurang lancar atau miskin Oksigen.
Di Indonesia ikan Tambakan termasuk ikan ekonomis penting yang harganya cukup tinggi terutama di pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Untuk Provinsi Jambi saja misalnya harga ikan tambakan dapat mencapai Rp 18.000/Kg, ini masih tergolong rendah, karena ikan ini masih banyak terdapat di perairan Jambi. Jika ikan ini di budidaya dan dijual ke daerah yang sedikit terdapat diperairannya, harga ikan ini bisa melonjak hingga Rp. 30.000-40.000/kg untuk ukuran 100 gram atau 10 ekor/kg dengan permintaan pasar mencapai 7000 kg/Tahun untuk tahun 2009 untuk dalam negeri. Berarti Ikan Tambakan menghendaki tempat yang hangat, yang biasanya berada pada ketinggian antara 150-750 m dari permukaan air laut. Suhu air optimum yang memberikan hasil yang baik bagi pemeliharaan ikan ini antara 27-300C.
Keberhasilan usaha budidaya ikan sangat ditentukan oleh ketersedian benih yang cukup jumlahnya dan bermutu baik. Ketersediaan benih yang cukup digunakan untuk kegiatan budidaya dan juga digunakan untuk cadangan diperairan umum, sehingga keberadaan ikan tersebut tetap lestari. Oleh karena itu, perlu diupayakan usaha pembenihannya.
 
Komoditas ikan tambakan (Helostoma temmincki) tidak semua UPT mengerjakannya. Balai Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi merupakan salah satu lembaga dibawah Departemen Perikanan dan Kelautan yang berperan dalam pengembangan teknologi pembenihan air tawar termasuk ikan tambakan, sehinggga pada kesempatan ini penulis memilih tempat di Balai Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi, sebagai tempat melaksanakan praktek kerja lapangan Komoditas Air Tawar.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktek kerja lapangan ini adalah:
  1. Untuk mengetahui teknik Pembenihan dan Budidaya ikan Tambakan serta system usahanya di BBAT Jambi.
  2. Mengikuti dan terjun langsung dalam kegiatan pembenihan ikan tambakan. Agar mampu mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama kuliah dalam kegiatan pembenihan ikan Tambakan.
  3. Sebagai tugas akhir untuk mengikuti mata kuliah Praktek Kerja Lapangan Pembenihan di Program Studi Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya.
1.3    Kegunaan
Diharapkan dengan dilakukannya kegiatan praktek kerja lapang ini, di harapkan mahasiswa dapat memadukan teori yang diperoleh selama berada di bangku perkuliahan dengan keadaan yang sebenarnya di lapangan. Hasil dari laporan PKL yang saya buat ini diharapkan dapat memberi informasi dan pengetahuan yang dapat menunjang penelitian lebih lanjut bagi pengembangan usaha pembenihan, khususnya Budidaya ikan tambakan (Helostoma temmincki).
II.  METODEdanTEKNIK  PENGAMBILAN DATA
2.1 Metode Pengambilan Data
Metode yang digunakan pada Praktek Kerja Lapang ini adalah  metode deskriptif, yaitu suatu metode yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum, sistematis , aktual dan valid mengenai data-data yang berupa fakta-fakta dan sifat populasi tertentu dari suatu kegiatan pembenihan ikan tambakan.
2.2 Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data ada dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan pengumpulan data langung di lapangan, metode pengambilan data primer dapat dilakukan melalui observasi, pertisipasi, aktif dan wawancara. Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber  yang telah ada. Data ini biasanya diperoleh melalui perpustakaan atau dari laporan-laporan peneliti terdahulu. (Hasan, 2001).
             Kegiatan yang dilakukan selama praktek kerja lapang ini meliputi:
1.       Mengadakan wawancara dengan staff, pegawai pelaksana dan nara sumber yang berhubungan dengan Balai Budidaya Air Tawar Jambi, yaitu tentang lokasi dan fasilitas pembenihan.
2.       Mengikuti secara langsung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang akan dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar Jambi.
3.       Mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan manajemen maupun operasional ditempat pembenihan serta aspek-aspek usaha yang berkaitan, produksi maupun pemasaran.
4.       Untuk menambah data yang diperoleh pada saat praktek kerja lapang, dapat dilakukan studi pustaka dan literatur yang ada.
III. KEADAAN UMUM
3.1  Lokasi Praktek Kerja Lapangan
                         Balai Budidaya air tawar (BBAT) Jambi berlokasi di Desa Sungai Gelam Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, 30 km dari kota Jambi. Adapun batas desa ini adalah sebelah timur berbatasan dengan Desa Petaling, Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Margalama, Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Tangkit dan sebelah Selatan berbatasan dengan kawasan transmigrasi. Luas areal BBAT Jambi 20 Ha, yang terdiri dari 4,3 Ha areal perkolaman, 3,35 Ha waduk reservoir, 12,35 Ha tanah darat yang sebagian besar digunakan sebagai perkantoran, asrama pelatihan, mess operator, hatchery, laboratorium dan sarana penunjang lainnya.
             Sumber air untuk perkolaman berasal dari resapan air disekitar BBAT Jambi yang ditampung dalam tiga buah waduk.
3.2 Sejarah dan perkembangannya
             Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi pertama kali didirikan pada tahun 1995 dengan nama loka budidaya air tawar Jambi. Terhitung mulai tanggal 1 mei 2001, berdasarkan SK menteri kelautan dan perikanan No. KP.26E/MEN/2001 bahwa loka budidaya air tawar Jambi diubah menjadi Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi yang mempunyai tugas melaksanakan penerapan teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air tawar, pelestarian induk/ benih ikan dan lingkungan, serta mengembangkan perikanan Air Tawar terutama di Wilayah Sumatera dan Indonesia Barat pada umumnya.
             Berdasarkan surat edaran dari Sekretaris Diretorat Jendral Perikanan nomor: OT.210/S5340/I/00k tanggal 25 januari 2000 maka Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi merupakan suatu unit pelayanan teknis Departemen Kelautan dan Perikanan di bidang budidaya air tawar dan bertanggung jawab kepada Direktur Jendral Perikanan Budidaya, yang memiliki wilayah kerja seluruh pulau Sumatera.
3.3 Struktur Organisasi
             Dalam  melaksanakan tugasnya, Balai Budidaya Air Tawar memiliki susunan organisasi agar dapat berjalan dengan lancar. Organisasi tersebut dipimpin oleh Kepala Balai (Ir. Supriyadi, M.Si) dan dibantu oleh Sub Bagian Tata Usaha, Seksi Standarisasi dan Informasi, Seksi Pelayanan Teknis dan Kelompok Jabatan Fungsional.
                  Susunan organisasi BBAT Jambi terdiri dari.
a.       Seksi Standarisasi dan Informasi
Mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan dan pembudidayaan ikan air tawar, pengendalian hama dan penyakit ikan, lingkungan, sumberdaya induk dan benih, serta pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan.
b.       Seksi Pelayanan Teknis
 Mempunyai mempuyai tugas melakukan pelayanan teknis kegiatan pengembangan, penerapan serta pengawasan, teknih kegiatan pengembangan, penerapan serta pengawasan, teknik pembenihan dan pembudidayaan ikan air tawar.
c.        Sub Bagian Tata Usaha
 Mempunyai tugas melakukan administrasi keuangan, kepegawaian, persuratan, perlengkapan dan rumah tangga serta pelaporan.
d.       Kelompok Jabatan Fungsional
Mempunyai tugas dalam membimbing pembenihan ikan air tawar.
3.4 Sumber Daya Manusia
             Untuk menunjang tugas dan fungsinya, BBAT Jambi memiliki tenaga yang menangani teknis, administrasi dan tenaga pendukung yang seluruhnya berjumlah 70 orang.
3.5 Fasilitas Fisik
             Fasilitas-fasilitas pembenihan meliputi fasilitas utama, pendukung dan penunjang. Agar kegiatan produksi berjalan, syarat utama yang harus dimiliki unit pembenihan adalah fasilitas utama dan pendukung.
3.5.1 Fasilitas utama
3.5.1.1 Wadah
                Fasilitas ini sangat mutlak diperlukan karena wadah merupakan tempat berlangsungnya pemeliharaan larva dan benih. Wadah untuk induk berupa kolam induk ukuran 600m2 sebanyak 10 buah, kolam pendederan ukuran 500 m2 sebanyak 15 buah, dan kolam pendederan ukuran 250 m2 sebanyak 28 buah. Kolam-kolam pendederan berukuran 500 m2sebanyak 5 unit. Dan bak pemijahan sebanyak 250 unit berupa fiber. Kolam-kolam tersebut sebanyak 39 unit sudah permanen dan 18 unit berupa kolam-kolam tanah.   
3.5.1.2 Sumber Air
             Air merupakan komponen terpenting dalam pembenihan ikan. Sumber air untuk perkolaman berasal dari resapan air tanah lahan disekitar Balai Balaidaya Air Tawar Jambi yang ditampung dalam 3 buah waduk/reservoir. Adapun ukuran dan pemanfaatan waduk tersebut yaitu Waduk I seluas 1,7 Ha dengan ketinggian air 1,5  m dan kualitas air sebagai berikut: Suhu 27-290C, oksigen terlarut 7-11 ppm, pH 6-8 ppm. Waduk tersebut digunakan sebagai sumber air kolam induk, kolam, pendederan dan pada bak pemijahan dan hatchery. Waduk 2 dengan luas 1 Ha digunakan untuk karamba jaring apung untuk tempat pemeliharaan calon induk maupun induk ikan nila dan ikan mas. Sementara untuk Waduk 3 yang memiliki luas 0,65 Ha dimanfaatkan sebagai pengendapan air pembuangan dari kolam-kolam sebelum dialirkan keluar.
             Pada hatchery sebelum air masuk terlebih dahulu diendapkan pada tandon/ tower. Hal ini dilakukkan karena air hasil endapan akan digunakan untuk pengairan unit-unit pembenihan. Terdapat tiga hatchery untuk pembenihan yaitu hatchery 1 untuk pembenihan ikan baung, jelawat dan patin hibrid, hatchery 2 untuk pembenihan udang galah, lobster air tawar dan patin siam. Hathery tiga untuk pembenihan Patin djambal. Pada hatchery dari waduk 1 air dipompa ke bak pengendapan dan dipompa ke hatchery, untuk hatchery 2 air yang berasal dari waduk terlebih dahulu dipindahkan ke tandon ukuran 3x6x2 m. dari tandon dipindahkan ke bak pengendapan yang berukuran 7x6x1,8 m dengan menggunakan pipa 5 inch. Untuk mendistribusikan air maka terlebih dahulu dinaikan ke tower dengan ukuran 2,25x2,25x1 m, menggunakan pompa air bermerek Niagara dengan spesifikasi 1 KW, debit 200L/m.

3.5.1.3 Sistem Aerasi
             Kebutuhan oksigen yang ada di BBAT Jambi berasal dari blower, hi-blow dan kincir, untuk kebutuhuan suplai oksigen ke unit-unit hatchery berasal dari blower, sementara kincir digunakan untuk suplai oksigen di unit KJA.  Blower yang digunakan bermerk elektrin, tipe NrE 376277, 3,5HP, 50 HZ, debit 1420 liter/menit, dan 4 KW dari blower tersebut udara didistribusikan melalui pipa 2 inchi yang disambungkan melalui pipa 1 inchi dari pipa 1 inchi ini baru dipasang selang aerasi dengan diameter 0,4 mm yang dilengkapi batu aerasi dan pemberat.                                       
3.5.1.4 Peralatan
            Untuk memenuhi kegiatan produksi ada berbagai peralatan yang digunakan diantaranya : jaring panen, serok, hapa, baskom, ember, alat-alat grading , timbangan, baskom, pipa berlubang.
3.5.2 Pendukung
   Energy listrik di BBAT Jambi berasal dari dua sumber : yaitu dari PLN dan Genset. Apabila sumber listrik dari PLN mati,  maka digunakan Generator set sebagai penerangan, dengan merk MITSUBHISI, tipe UCI 224 E1, 1500 rpm 220/380 volt, dan 50 Hz.                                                                      3.5.3 Penunjang
             Fasilitas penunjang yang ada di BBAT Jambi diantaranya kantor, laboraturium, gudang, rumah karyawan, asrama mahasiswa, dan bangunan lainnya.
3.6 Kerjasama dengan Luar Negeri
             Kerjasama yang pernah dijalin antara BBAT Jambi dengan luar negeri demi pengembangan teknologi budidaya ikan air tawar:
a.       Japan International Cooperation Agensi (JICA)
Sejak tahun 1995-2000 bantuan berupa technical assistance.  Kemudian sejak tanggal 28 agustus 2000 ditanda tangani kesepakatan (MOU) antara Direktorat Jenderal Perikanan dengan JICA untuk PTTC (Project Type Technical Cooperation) selama 5 tahun.  Kegiatan dalam program ini adalah :
1.       Pengiriman tenaga ahli budidaya ke BBAT Jambi
2.       Memberikan bantuan peralatan laboraturium dan perikanan
3.       Mengirimkan tenaga pendamping untuk mengikuti pelatihan di Jepang.
b.       IRD (EX.  ORSTOM) Perancis
Program ini meliputi penelitian dan pengembangan catfish yaitu :
1.       Pematangan gonad ikan patin jambal di karamba Sungai Batang Hari. 
2.       Teknik pemijahan botia.
3.       Teknik pemijahan arwana.
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN
4.1 Bahan dan Alat
Bahan dan Alat yang digunakan untuk pemijahan ikan tambakan adalah sebagai berikut: Induk ikan tambakan, Timbangan, Penggaris, Fiber glass (1000 liter dan 100 liter) Mikroskop, Alat perikanan di lapangan (seperti: Baskom, Ember, Waring) Jaring penangkap induk, Alat pengukur kualitas air (Thermometer, pH meter), serta buku catatan.
4.2    Waktu dan Lokasi
             Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan mulai tanggal 3 maret sampai 27 April 2008 dan bertempat di Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Desa Sungai Gelam, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi.
4.3  Metode Kerja
             Selama kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang terdiri dari: mengikuti, mengerjakan, menghitung, mendiskusikan, dan mencatat seluruh rangkaian kegiatan pembenihan ikan tambakan yang dilaksanakan di Balai Budidaya Air Tawar Jambi, yang meliputi: Pemeliharaan Induk, Seleksi induk, Pemijahan Induk, Penetasan Telur, Pemeliharaan Larva dan Benih, Kultur Pakan Alami dan Pemberian Pakan Pellet.
             Mengamati, mencatat data sekunder dan wawancara tentang keadaan umum di Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Mengamati, menghitung, mencatat, dan wawancara langsung tentang faktor-faktor dalam analisa usaha pembenihan ikan tambakan dan sistem untuk restocking ikan tambakan yang dilakukan di Balai Budidaya Air Tawar Jambi.
4.4 Fasilitas Pembenihan
4.4.1 Kolam Pemeliharaan Induk
Kolam pemeliharaan induk berfungsi untuk memelihara induk yang akan dipijahkan dan tempat untuk induk istrahat setelah beberapa kali dipijahkan. Kolam pemeliharaan induk ikan tambakan di BBAT Jambi berbentuk persegi panjang yang mempunyai ukuran 10 x 25 x 1,5  meter yang dinding kolam yang terbuat dari semen sedangkan dasar kolam tidak terbuat dari semen. Kolam dilengkapi dengan saluran pemasukan (inlet) dan saluran pengeluaran (outlet). Pipa saluran outlet menggunakan pipa PVC ukuran 16,5 cm, saringan pada saluran inlet terbuat dari besi dengan luas saluran air 0,60 meter.
4.4.2 Wadah Pemijahan dan Penetasan Telur
Wadah pemijahan ikan Tambakan di BBAT Jambi yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penetasan telur terbuat dari bahan fiber glass. Wadah berbentuk lingkaran yang memiliki kapasitas air 1000 liter. Untuk pemijahan dan penetasan telur air diisi sebanyak 600 liter.
4.4.3 Kolam Pendederan
Kolam pendederan terdiri dari kolam pendederan I untuk pemeliharaan larva. Sedangkan kolam pendederan ke II untuk pemeliharaan benih menggunakan kolam tanah yang dinding kolam di semen. Kolam pendederan berbentuk persegi panjang dengan salah satu sudut pada bagian outlet berbentuk siku. Kolam pendederan I terdiri dari 2 x 4 x 1 meter. Sedangkan kolam pendederan ke II berukuran 16,7 x 30 meter x 1,2 meter. kolam pendederan ke II dilengkapi dengan saluran inlet dan outlet dengan ukuran pipa inlet sebesar 11 cm dan pipa outlet 16,5 cm, sedangkan untuk kolam pendederan I untuk outlet 6,5 cm dan inlet 4 cm.                                                                                     
4.4.5 Sumber Air
Sumber air yang digunakan berasal dari resapan disekitar lokasi dan ditampung dalam waduk, air tersedia sepanjang tahun. Air didistribusikan dengan gaya gravitasi dan disalurkan kekolam dengan menggunakan pipa PVC ukuran 11 cm. Air yang masuk kedalam kolam disesuaikan dengan kebutuhan. Air yang digunakan tidak diberi perlakuan khusus karena air dalam keadaan baik tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia, hanya pada saluran inlet diberi saringan untuk menyaring sampah yang terbawa masuk.






V. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG
5.1 Karakteristik Ikan Tambakan
5.1.1Klasifikasi dan Morfologi
Kerajaan               : Animalia
Filum
                      : Chordata
Kelas
                      : Actinopterygii
Ordo
                       : Perciformes
Upaordo
                                : Anabantoidei
Famili
                     : Helostomatidae
Genus
                     : Helostoma
Spesies
                   : Helostoma temminckii
Nama Lokal         : Ikan Tambakan
             Ikan tambakan (Helostoma temminckii) adalah salah satu jenis ikan air tawar yang berasal dariwilayah tropis, tepatnya Asia Tenggara. Ikan ini pada awalnya berasal dari Thailand hingga Indonesia sebelum akhirnya diintroduksi ke seluruh dunia.
             Ikan ini juga dikenal dengan nama gurami pencium karena kebiasaannya "mencium" saat mengambil makanan dari permukaan benda padat maupun saat berduel antara sesama pejantan. Di Indonesia sendiri, ikan ini memiliki banyak nama seperti bawan, biawan, hingga ikan samarinda.
             Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri berbentuk nyaris bundar atau mengarah cembung ke luar, sementara sirip dadanya yang berjumlah sepasang juga berbentuk nyaris bundar. Di kedua sisi tubuhnya terdapat gurat sisi, pola berupa garis tipis yang berawal dari pangkal celah insangnya sampai pangkal sirip ekornya. Kurang lebih ada sekitar 43-48 sisik yang menyusun gurat sisi tersebut. Ikan tambakan diketahui bisa tumbuh hingga ukuran 30 sentimeter.
             Salah satu ciri khas dari ikan tambakan adalah mulutnya yang memanjang. Karakteristik mulutnya yang menjulur ke depan membantunya mengambil makanan semisal lumut dari tempatnya melekat. Bibirnya diselimuti oleh semacam gigi bertanduk, namun gigi-gigi tersebut tidak ditemukan di bagian mulut lain seperti faring, premaksila, dentary, dan langit-langit mulut. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel-partikel makanan yang masuk bersama dengan air.
             Ada dua jenis ikan tambakan berdasarkan warnanya, namun mereka masih termasuk dalam spesies yang sama: ikan tambakan berwarna hijau dan ikan tambakan berwarna pucat atau merah muda. Belakangan, ada juga jenis ikan tambakan yang ukurannya lebih kecil dari ikan tambakan kebanyakan dan bentuknya bundar nyaris menyerupai balon. Variasi genetis ikan tersebut biasa dikenal dengan nama "gurami pencium kerdil" atau "balon merah muda".
5.1.2 Habitat dan Penyebaran
             Ikan tambakan merupakan ikan air tawar yang bersifat bentopelagik (hidup di antara permukaan dan wilayah dalam perairan). Wilayah asli tempatnya tinggal umumnya adalah wilayah perairan tropis yang dangkal, berarus tenang, dan banyak terdapat tanaman air. Pada awalnya ikan tambakan hanya ditemukan di perairan air tawar Asia Tenggara, namun belakangan mereka menyebar ke seluruh wilayah beriklim hangat sebagai binatang introduksi.
5.1.3 Pakan dan Kebiasaan Makan
             Ikan tambakan adalah ikan omnivora yang mau memakan hampir segala jenis makanan. Makanannya bervariasi, mulai dari lumut, tanaman air, zooplankton, hingga serangga air. Bibirnya yang dilengkapi gigi-gigi kecil membantunya mengambil makanan dari permukaan benda padat semisal batu. Ikan tambakan juga memiliki tapis insang (gill raker) yang membantunya menyaring partikel plankton dari air. Saat sedang mencabut makanan yang menempel di permukaan benda padat memakai mulutnya itulah, ikan ini bagi manusia terlihat seolah-olah sedang "mencium" benda tersebut.
5.1.4 Reproduksi dan Perkembangbiakan  Ikan tambakan termasuk ikan yang mudah berkembang biak. Di alam liar, dalam waktu kurang dari 15 bulan, populasi minimum mereka sudah bisa bertambah hingga dua kali lipat populasi awalnya. Reproduksi ikan tambakan sendiri terjadi ketika periode musim kawinnya sudah tiba. Di Thailand misalnya, musim kawin ikan tambakan terjadi antara bulan Mei hingga OktoberPerkawinan antara kedua ikan tambakan yang berbeda jenis kelamin terjadi di bawah tanaman air yang mengapung. Ikan tambakan betina selanjutnya akan melepaskan telur-telurnya yang kemudian akan mengapung di antara tanaman air. Tidak seperti anggota subordo Anabantoidei lainnya, ikan tambakan tidak membuat sarang maupun menjaga anak-anaknya sehingga anak ikan tambakan yang baru menetas sudah harus mandiri. Sehari setelah pertama kali dilepaskan ke air, telur-telur tersebut akan menetas dan setelah sekitar dua hari, anak-anak ikan tambakan sudah bisa berenang bebas.
5.2 Pemeliharaan Induk                                   Persiapan wadah pada pemeliharaan induk dimulai dengan menyurutkan air sampai habis dengan cara membuka pintu saluran outlet dan menutup pintu saluran inlet dengan menggunakan karung, kayu dan besi lempengan. Adapun pengertian Inlet adalah saluran pemasukan air dan Outlet adalah saluran pengeluaran air. Setelah air surut dilakukan pembersihan kolam dari kotoran dan hama. Hama pada ikan biasanya berupa keong dan ikan-ikan kecil, termasuk ikan gabus.
Pembersihan kolam dengan menggunakan sekop atau cangkul. Pada pemeliharaan induk ini dilakukan pengapuran tapi pemupukan tidak dilakukan karena pada kolam induk masih ada unsur-unsur hara yang dibutuhkan buat menumbuhkan pakan alami. Pengapuran bertujuan untuk membunuh hama-hama pengganggu pada induk tambakan. Tanah dasar kolam induk diolah dengan cara membalikkan tanah menggunakan sekop yang ditarik secara merata. Pengisian air dilakukan setelah selama satu hari dikeringkan. Ketinggian air untuk kolam pemeliharaan induk yang berkedalaman 100 cm diisi air setinggi 80 cm.
5.3   Penebaran Induk
Calon induk diambil dari alam yang lokasi induknya berada didaerah sekitar. Propinsi Jambi. Kemudian induknya dipelihara di kolam pemeliharaan induk yang telah disiapkan. Calon induk dipelihara pada kolam air tenang yang kadar oksigennya rendah, ikan tambakan masih dapat hidup karena ikan tambakan mempunyai alat pernapasan tambahan yang berupa labirynth. Induk Jantan dan Induk Betina dipelihara dalam satu kolam. Induk yang dipelihara pada kolam pemeliharaan induk hanya menggunakan satu kolam, dengan luas 250 m2.
5.4   Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan yang berupa pellet. Jenis pellet yang diberikan adalah pellet jenis tenggelam dengan merk ‘CPP 888-3 SM’. Pellet tersebut dibuat di pabrik pakan yang berada di daerah Karawang. Kandungan nutrisi pellet ‘CPP 888-3 SM’ Dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Pakan Ikan
No
Kandungan Nutrisi
Kadar (%)
1.
Protein
30-32
2.
Lemak
3-5
3.
Serat
4-6
4.
Abu
5-8
5.
Kadar Air
11-13
Kandungan Protein pada pakan ikan 30-32% diberikan sebanyak 3% dari bobot tubuh ikan perhari. Dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari atau 3 kg perhari dan pemberian pakan dilakukan pada pagi hari jam 07:00 WIB dan sore hari diberikan jam 16:00 WIB. Pemberian pakan yang cukup dapat merangsang pematangan gonad pada induk. Pakan diberikan dengan cara ditebar di satu tempat saja atau tidak boleh memencar. Untuk membuat induk ikan datang dan mengumpul di satu tempat maka induk di panggil dengan cara, dinding kolam dipukul-pukul menggunakan kayu atau tangan.
5.5   Pengelolaan Kualitas Air
             Kondisi lingkungan terutama kondisi perairan sangat mempengaruhi keberhasilan Budidaya. Pengelolaan air pada pemeliharaan induk dilakukan dengan pergantian air secara overflow atau secara terus-menerus yaitu air yang keluar sebanding dengan air yang masuk. Pergantian air dilakukan dengan membuka pipa saluran inlet dan mengisi air sampai penuh atau sampai batas pipa outlet. Pipa outlet tersebut ditutup dengan saringan atau kain. Tujuannya agar ikan yang ada di kolam tidak akan keluar walaupun airnya penuh sampai batas pipa outlet.
             Pipa saluran inlet tidak perlu dipasang saringan karena air yang masuk kedalam kolam sudah bersih dari sampah dan kotoran. Kualitas air pada kolam pemeliharaan induk dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kualitas Air Kolam Pemeliharaan Induk Tambakan.
No
Parameter
Nilai
1.
Suhu (0c)
25-30 0C
2.
pH
7,55
3.
DO (mg/l)
5,0
4.
Kecerahan (cm)
20
5.
Warna Perairan
Coklat Kemerahan (Keruh)
Jadi ikan Tambakan dapat hidup walaupun warna perairannnya coklat kemerahan (keruh). Alat untuk mengukur Kualitas Air adalah sebagai berikut: 1. pH meter dan Termometer, 2. DO meter, 3. Seichi disk. Cara kerja pH meter dengan cara PH meter dicelupkan kedalam air, kemudian dicatat berapa PH yang ada didalam kolam. Termometer dengan cara dicelupkan kedalam air, yang cara penggunaannya hampir sama dengan pH meter. Kemudian dicatat berapa suhu yang ada di kolam tersebut. DO meter dengan cara DO meter dimsukkan kedalam perairan tersebut dan biarkan sampai angka yang ditunjukkkan baru berhenti, kemudian angka yang telah berhenti tersebut dicatat. Sedangkan untuk Seichi disk cara kerjanya adalah dengan cara seichi disk dimasukkan kedalam kolam tersebut dan diamati sampai kedalaman berapa seichi disk tidak akan terlihat lagi, kemudian dicatat berapa kecerahannya. Untuk pengukuran kualitas air ini dilakukan tiap sepuluh hari sekali yaitu hanya pada pagi hari hanya untuk kolam induk.
5.6    Seleksi Kematangan Gonad
Induk yang akan dipijahkan harus diseleksi terlebih dahulu karena proses seleksi induk akan menentukan keberhasilan dalam proses pemijahan. Induk yang dipilih adalah induk yang sehat, anggota tubuhnya tidak cacat dan gerakannya aktif.
Sedangkan untuk seleksi kematangan gonad dilakukan dengan pengecekan induk. Kemudian induk tambakan ditimbang bobotnya dan diukur panjang total ikan. Seleksi induk yang akan dipijahkan dilakukan pada pagi hari untuk menghindari ikan mengalami stress karena pengaruh suhu. Seleksi dilakukan dengan menangkap induk dari kolam pemeliharaan induk dan ditempatkan didalam ember besar untuk dipindahkan kedalam bak fiber glass untuk dipijahkan.
Ukuran induk tambakan yang sudah siap memijah berumur 12-18 bulan dengan panjang 20-24 Cm dan berat 150-300 Gram/ekor. Jumlah telur yang dihasilkan 73.073 butir tiap satu induk. Induk yang telah matang kelamin dapat dilihat ciri-cirinya sebagai berikut: Betina Badannya relatif tebal agak membulat, jinak. Sisiknya terutama mulai dari dagu keperut lebih putih bersih dari pada jantan. Perut mengembang dengan pangkal sirip dada berwarna kemerah-merahan. Jantan badannya relatif lebih tipis, memanjang dan kelihatan liar. Warnanya mulai dari dagu keperut lebih gelap dari pada ikan betina. Jika perutnya dicoba ditekan maka akan keluar cairan putih yang tidak lain adalah sperma. Pada punggung dan pipi sampai dagu terdapat banyak sisik yang berwarna kehitam-hitaman.
Secara rata-rata panjang ikan jantan 19,67 cm dengan bobot 106,53 gram. Sedangkan untuk panjang rata-rata ikan betina 22,75 cm dan bobot total ikan betina 188,27 gram.
5.7Pemijahan Induk
5.7.1 Persiapan Wadah Pemijahan
             Pemijahan ikan tambakan dilakukan pada bak fiber glass terkontrol dengan volume bak 1000 liter. Bak yang disiapkan sebanyak empat buah bak, kemudian bak dibersihkan Setelah itu bak yang digunakan dibilas dengan air bersih. Kemudian bak yang telah dibersihkan dikeringkan selama satu hari agar kuman-kuman dan bibit penyakit mati. Sedangkan persiapan bak fiber glass ini dilakukan di hatchery satu yang tertutup.
             Setelah bak fiber glass dikeringkan selama satu hari, kemudian air diisi kedalam bak fiber glass tersebut sebanyak 600 liter. Kemudian aerasi dipasang kemasing-masing bak fiber glass sebanyak dua  buah selang aerasi dan aerasi harus di cek setiap hari.  
5.7.2  Pemijahan
Sebelum ikan dipijahkan dilakukan penangkapan induk dengan menggunakan Jaring. Ukuran mata jaring yang digunakan untuk menangkap induk jantan dan betina dengan diameter jaring 1 cm. Kemudian ikan digiring dengan cara mempersempit ruang gerak ikan didalam air.
Pemijahan dilakukan didalam bak fiber glass dengan volume 600 liter air, dengan perbandingan jantan dan betina 1:1. Bak fiber glass tidak perlu ditutup dengan jaring, karena bak yang digunakan cukup besar dan volume airnya tidak terlalu banyak. Sebelum induk dipijahkan terlebih dahulu diberok dengan tujuan untuk mengosongkan perut ikan dari kotorannya (feces).
Jumlah ikan Jantan dan Betina yang ditangkap sebanyak 25 Jantan dan 25 Betina dan dilakukan pemijahan massal dan secara alami. Induk Jantan dan Betina dimasukkan kedalam bak fiber glass. Pemijahan ini tidak menggunakan substrat pemijahan, karena telur melayang/mengapung di permukaan air.
Setelah ikan jantan dan betina digabung kemudian suhu air di cek dengan menggunakan pH meter, Termometer dan DO meter. Adapun suhu untuk pemijahan ikan tambakan berkisar 26,8 0C, pH nya 6,99 ppm, DO nya 5,1. Kemudian selang Aerasi di pasang kedalam bak fiber tersebut.
Adapun tingkah laku pemijahannya adalah sebagai berikut, Ikan jantan akan mengejar-ngejar ikan yang betina. Kemudian warna air akan berubah menjadi keruh dan airnya bau amis dan kelihatan ada gelembung-gelembung  kecil di air tersebut Kemudian ikan jantan akan memutar-mutarkan badannya dan membelitkannya kepada betian. Ikan betina yang sudah memijah akan terlihat bekas luka akibat gigitan dari ikan jantan yang cukup keras. Kemudian akan mulai memijah dan melakukan ovulasi pada pagi hari yaitu pada pukul 06:35. Telur akan mulai banyak yang keluar dan terbuahi. Kemudian induk jantan dan betina akan selesai memijah dan setelah itu induk dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk pada pukul empat sore.
Ciri-ciri telur yang dibuahi dan yang tidak dibuahi adalah sebagai berikut: Telur yang dibuahi berwarna kuning dan bening transparan, Sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih dan jika dibiarin terlalu lama akan ada jamur yang tumbuh. Telur tersebut bersifat melayang di permukaan air.
5.8Penetasan Telur
5.8.1   Persiapan Wadah
Adapun wadah yang diperlukan untuk menetaskan telur adalah 3 buah bak fiber glass yang telah disediakan dan yang telah dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel pada bak fiber glass tersebut. Kemudian selang aerasi pada bak fiber glass tersebut dipasang sebanyak 6 buah.
5.8.2   Penebaran dan Inkubasi Telur
Telur dipindahkan ke bak fiber glass yang telah disiapkan. Pemindahan telur dilakukan secara hati-hati dengan menggunakan serok kain yang lubang kainnya rapat. Kemudian telur di serok perlahan-lahan, diserok sedikit demi sedikit tidak boleh terlalu banyak karena akan menyebabkan telur-telur akan menjadi rusak. Telur yang telah diserok disebar secara perlahan-lahan. Suhu dari ke tiga bak fiber glass tersebut adalah 27,37 0C, sedangkan untuk ph 7,13 dan DO nya 6,98 ppm. Telur yang dibuahi kemudian diukur diameternya dengan menggunakan mikroskop. Adapun alat dan bahan yang digunakan untuk mengukur diameter telur adalah sebagai berikut: Mikroskop elektron, Cawan petrik, Gelas objek, Tissue, Jarum pentul, Wadah plastic. Kemudian telur diambil sebanyak 50 butir, diameter telur diukur setelah dua jam telur keluar pada pukul 08:45 – 09:15 WIB. Jadi jumlah diameter rata-rata telur yang telah diukur adalah 0,99 mm.
Telur yang telah di Inkubasi mulai menetas setelah16-20 jam, pada kegiatan yang saya lakukan telur akan menetas pada pukul 21:30 WIB. Dikarenakan suhu penetasan pada telur sangat bagus sehingga telur akan cepat menetas.
Telur dihitung dengan mengambil tiga kali ulangan, tiap ulangan diisi telur sebanyak + 200 butir telur. Kemudian telur dimasukkan ke tiga saringan. Adapun cara penghitungan derajat pembuahan telur adalah sebagai berikut.
Sedangkan derajat penetasan dihitung dengan cara menghitung satu-satu jumlah larva yang menetas. Untuk jumlah telur, derajat penetasan , Hr, Fr, Gsi dapat dilihat pada tabel 4 di halaman lampiran.
5.9 Pemeliharaan Larva
5.9.1 Persiapan Wadah Pemeliharaan
Persiapan wadah pemeliharaan larva dengan menggunakan bak beton yang berukuran 2,5 meter x 5,0 meter. Bak beton yang digunakan sebanyak tiga buah bak beton. Untuk menggunakan bak beton sebaiknya bak beton dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang menempel. Karena bak beton bekas pemeliharaan benih ikan patin siam dan bekas kultur pakan alami.
Air yang ada di bak beton dibuang terlebih dahulu semuanya, kemudian setelah air yang ada didalam bak beton habis dibuang semuanya. Kemudian bak beton dibersihkan dengan menggunakan mesin pompa door smeer yang mempunyai daya dorongan air yang kuat. Kemudian air tersebut disorong ke pipa outlet dengan menggunakan sekop beserta kotoran yang telah dibersihkan. Setelah bak dirasa cukup bersih, kemudian bak dikeringkan selama satu hari. Pengeringan bak berguna untuk membunuh bibit-bibit penyakit dan kuman-kuman yang ada didalam bak. Kemudian selang aerasi dan batu aerasi tetap dipasang, kemudian aerasi di cek terus-menerus.
Setelah bak dikeringkan kemudian air dimasukkan kedalam bak sebanyak 5000 liter atau 5 ton air. Jadi untuk ketiga bak dibutuhkan 15 ton air atau 15.000 liter air. Bak yang telah disiapkan, sebelumnya pakan alami sudah dikultur terlebih dahulu sebelum larva ditebarkan.                                                                                                                                                   
5.9.2 Pemanenan Larva Tambakan
Larva dipanen setelah semua telur  menetas, Larva dipanen dengan menggunakan serokan kain. Kemudian larva ikan dihitung dengan menggunakan sendok takar 5 ml. sebelumnya larva ikan telah dihitung berapa takar larva yang didapat dalam satu sendok takar. Kemudian panjang larva tambakan diukur dengan menggunakan mikroskop proyektor.
 5.9.3 Penebaran Larva Tambakan
Larva Tambakan ditebar di bak beton yang telah disiapkan  dan yang telah tumbuh pakan alaminya buat pakan larva tambakan. Larva tambakan masih memiliki kuning telur, kuning telur larva tambakan akan habis setelah larva tambakan berumur dua hari. Setelah umur larva tambakan lewat 2 hari larva akan mulai memakan pakan alami yang ada di bak beton berupa Plankton.
Adapun larva tambakan yang masih berumur satu hari belum dapat berenang kedalam kolom perairan. Larva baru dapat berenang kedalam kolom perairan setelah larva berumur 3 hari. Larva bersifat tenang dan tidak mau bergerak, tapi ada sebagian larva yang sudah langsung bergerak bebas dan berenang didalam kolom perairan. Untuk larva tambakan ini, aerasi tetap harus dipasang karena jumlah ikan yang ditebar terlalu padat dan suplai oksigen buat larva tetap ada. Larva yang baru menetas akan terapung dengan perut diatas dan ukuran larva yang baru menetas berukuran 2,5 mm.                               
5.9.4 Pendederan 1
Pada kolam pendederan I penebaran larva dilakukan pada pukul 13:30-17:00 WIB dengan cara larva diserok dengan menggunakan serokan kain. Kemudian Larva di takar dengan menggunakan sendok takar 5 ml dan dimasukkan kedalam baskom. Bak I diisi 200 takar (736.000), Bak II  diisi 183 takar (673.440) dan Bak III diisi 175 takar (644.00). Dengan kapasitas air 5000 liter. Tiap satu takar 3680 ekor larva. Jadi jumlah larva yang menetas keseluruhannya 2.053.440. Pakan yang diberikan pada pendederan I berupa tepung pellet, selain itu larva makan pakan alami yang tumbuh di bak beton.
5.9.5 Pemberian Pakan Larva Tambakan
Selain plankton larva tambakan dapat diberikan pellet yang lebih halus buat larva tambakan. Tetapi pellet dapat diberikan setelah semua larva dapat bergerak dan berenang bebas dan kuning telur telah habis sebagai pakan cadangan. Pemberian pakan dilakukan setelah 2-3 hari dengan cara menebarkan pakan diatas permukaan air.
Frekwensi pemberian pakan dilakukan empat kali sehari sebanyak 12 gram/hari sampai umur 3 hari dan 20 gram/hari sampai umur 7 hari. Untuk pemberian pakan dengan cara Micro diet dilakukan dengan cara dilarutkan kedalam air kemudian di tebar ke permukaan air.
5.9.6 Pemanenan Benih
             Sebelum melakukan pemanenan benih tambakan, benih dipuasakan terlebih dahulu selama satu hari (di berok) gunanya untuk mengosongkan perut dan mengurangi amoniak pada ikan sewaktu dikirim. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan jaring, benih diambil sebanyak 10.000 ekor sesuai permintaan dari konsumen.
             Sebelum benih tambakan dikirim, larva tambakan ditampung didalam hapa, yang telah dipasang sebelumnya didekat kolam benih. Benih yang dipanen akan disumbangkan ke pesantren yang membutuhkannya dan juga untuk restocking.
5.9.7   Kultur Pakan Alami
Sebelum larva di tebar kedalam bak pakan alami harus dikultur terlebih dahulu buat pakan larva. Bak yang dibutuhkan sebanyak tiga buah dengan ukuran 2,5 meter x 5,0 meter. Wadah yang dibutuhkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Dengan cara air yang kotor didalam bak harus dibuang terlebih dahulu yang ada pada ketiga bak tersebut. Kemudian bak tersebut dibersihkan dengan menggunakan pompa yang mempunyai tenaga dorongan yang kencang.
Bak dibersihkan dan Semua kotoran juga endapannya langsung dibuang. Lalu selang aerasi dipasang tiap-tiap bak yang akan digunakan. Kemudian air dimasukkan kedalam bak yang telah dikosongkan, air diisi sebanyak 5000 liter.   
5.9.8   Pemupukan
Untuk pemupukan bak dimulai setelah air bak diisi, adapun dosis pupuk yang digunakan adalah sebagai berikut. Urea 800 gram, Tsp 880 garam, Dedak 800 gram, Tepung ikan 400 gram, Tepung kedelai 400 gram. Sedangkan volume air untuk bak 1 dan bak ke 2 jumlah volume air nya adalah sebanyak 10 ton/10.000 liter air. Pemupukan berguna untuk menumbuhkan pakan alami. Jenis pakan alami yang biasa dimakan oleh larva ikan adalah plankton. Untuk bak yang ketiga langsung diambil pakan alami dari bak yang sebelahnya, dengan menggunakan mesin pompa dengan cara pakan alami disedot kemudian diisi sebanyak 5 ton/5000 liter yang ada pakan alaminya.
Pada cuaca cerah pakan alami akan tumbuh dengan cepat, pakan alami akan tumbuh selama tiga hari dan jika pada cuaca mendung pakan alami akan tumbuh dengan lambat atau selama satu Minggu. Warna perairan yang bagus buat pakan alami berwarna hijau tua. Tabel 5. Pengukuran suhu air pada bak pakan alami.
No
Parameter yang diukur
Nilai/Angka
1.
Suhu
28,52 0C

pH
6,74

DO
5,2 ppm
2.
Suhu
28,94 0C

pH
6,29

DO
4,14 ppm
5.7 Pengembangan Usaha Pembenihan
5.7.1 Kendala
             Teknologi pembenihan ikan tambakan telah dikuasain, namun masyarakat kurang tertarik untuk membudidayakan ikan tambakan tersebut dikarenakan pertumbuhannya sangat lambat. Maka diperlukan dibuat pelatihan-pelatihan yang mampu menarik masyarakat untuk ikut serta dalam melestarikan ikan tambakan. Perlu ditemukan lagi teknologi yang dapat mempercepat pertumbuhan ikan tambakan.
             Induk Ikan Tambakan masih sangat susah didapat, kebanyakan induk tambakan didapat dari hasil tangkapan alam, maka perlu dibuat teknologi untuk mempercepat calon induk tambakan yang baik.
             Keberhasilan usaha budidaya ikan sangat ditentukan oleh ketersediaan benih yang cukup jumlahnya dan bermutu baik. Ketersediaan benih yang cukup digunakan untuk kegiatan budidaya dan juga digunakan untuk cadangan diperairan umum, sehingga keberadaan ikan tersebut tetap lestari. Oleh karena itu, perlu diupayakan usaha pembenihannya.
             Komoditas ikan tambakan (Helostoma temmincki) UPT mengerjakannya. Balai Budidaya Air Tawar Sungai Gelam Jambi merupakan salah satu lembaga dibawah Departemen Perikanan dan Kelautan yang berperan dalam pengembangan teknologi pembenihan air tawar termasuk ikan tambakan.
             Menyebarkan informasi teknologi pembenihan ikan tambakan yang aplikatif kepada masyarakat. Rekaya teknologi pakan yang cocok untuk perkembangan gonad ikan tambakan.
             Aspek pembesaran untuk calon induk ikan tambakan dapat dilakukan yaitu, melakukan rekaya pembesaran ikan tambakan secara intensif baik di BBAT Jambi, maupun di masyarakat pembudidaya ikan yang memiliki lingkungan yang cocok untuk pemeliharaan ikan ini. Mencari alternatif budidaya pembesaran ikan tambakan selain dikolam sehingga pemanenan lebih mudah.
             Mencari alternatif untuk mengurangi resiko kematian benih pada saat benih di pindahkan dari bak Fiber glass ke bak Beton. Kemudian mencari solusi untuk menumbuhkan pakan alami buat benih tambakan secara cepat.
5.7.2 Prospek Usaha kedepan
Benih tambakan di restocking didaerah Lubuk Larangan. Untuk harga tambakan yang siap dikonsumsi 30.000-40.000/kg untuk ukuran 100 gram atau 10 ekor/kg. Manfaat dari restocking ikan tambakan ini adalah untuk pelestarian plasma nutfah atau ikan-ikan yang telah ada dilestarikan agar tidak punah dan bisa terdapat dialam dan masyarakat luas bisa mengkonsumsi ikan tambakan tersebut.
Untuk manajemen restocking, ikan yang telah di restocking dilakukan 3 kali pengecekan seperti sampel awal restocking.   Ikan tambakan sudah sejak lama membawa manfaat bagi manusia. Di wilayah aslinya di Asia Tenggara, ikan ini dibudidayakan untuk diambil dagingnya. Ikan tambakan juga biasa dipancing di alam liar. Belakangan, ikan tambakan menjadi salah satu komoditas ikan hias air tawar karena wujud dan perilakunya yang  unik. Sebagai dampak dari popularitasnya sebagai ikan hias, sejumlah besar ikan tambakan yang masih berukuran kecil diekspor ke negara-negara lain seperti Jepang, Eropa, Amerika Utara, dan Australia.
Kemudian setiap tiga bulan sekali dilakukan pengambilan sampel ikan di lokasi restocking. Selain itu harga benih ikan tambakan didaerah Palembang yang ukuran 2 cm dihargai 200 rupiah tiap 1 ekor. Sedangkan untuk analisa usahanya yaitu investasi total Rp. 52.700.000 sedangkan untuk total biaya produksinya Total Biaya= Biaya tetap+Biaya tidak tetap= Rp. 7.420.000+2.935.000 = Rp. 10.355.000.
Untuk Pendapatan Benih nya ukuran 2 cm yang di panen dikali harga Benih ukuran 2 cm 150.000 ekor @. 200 = Rp. 30.000.000. Keuntungan adalah total penerimaan setelah dikurangi dengan biaya total, Pendapatan –Total biaya = Rp.30.000.000-10.355.000 =    Rp.19.645.000. R/C Ratio  = Pendapatan : Total Biaya = Rp. 30.000.000 : Rp. 10.355.000 = 2,89 Artinya setiap pembiayaan sebesar Rp. 2,00 akan menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 2.89
Sedangkan untuk BEP Volume Produksi Total Biaya : Harga Satuan =  10.355.000 : 200/ekor  = 51.775 ekor. Artinya titik balik balik modal usaha ini akan tercapai bila volume produksi benih mencapai 51.775 ekor. BEP Harga Produksi, Total Biaya : Total Produksi = 10.355.00 : 150.000 = 69,033/ekor
Pay Back Periode (PP), PP = Investasi : Keuntungan x 1 Tahun = 52.700.000 : 39.290.000 = 1,3 Tahun. CASH FLOW = Keuntungan + Biaya Penyusutan = 39.290.000 + 5.270.000 = 44.560.000
Periode produksi dua kali dalam setahun dengan target produksi benih yang di peroleh 1.200.000 ekor/siklus atau 2.400.000 ekor/tahun.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
             Dari kegiatan pemijahan ikan tambakan di bak beton dapat disimpulkan bahwa derajat pembuahan (FR) pada bak Fiber glass 97,6% dan Jumlah telur yang menetas (HR) 95,5 % dan suhu air yang bagus buat pemijahan 27-30 0C sedangkan SR nya tidak ada.
             Keberhasilan dari kegiatan perekayasaan ini dapat memberikan pengetahuan guna mempercepat proses ahli teknologi pemeliharaan ikan tambakan dan untuk dikembangkan melalui usaha perikanan yang akhirnya akan dapat menjadikan usaha ekonomis yang menguntungkan.
6.2 Saran
             Dari hasil praktek kerja lapang maka saran yang dapat diambil yaitu:
·         Perlu dilakukan pemisahan terhadap induk tambakan yang telah selesai dipijahkan dengan yang belum matang gonad.
·         Sebaiknya pada saat melakukan pendederan Larva ikan tambakan jangan di pindahkan di Bak Beton luar Hatchery, tetapi biarkan saja dulu larva tersebut masih tetap di dederkan di bak dalam hatchery. Karena larva masih rentan terhadap suhu dingin.
·         Perlu dilakukan pengkulturan pakan alami yang cukup bagi larva dan benih tambakan.
·         Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam teknologi pemeliharaan benih, pendederan dan pembesaran supaya tingkat kelulushidupan ikan tambakan tinggi, sehingga usaha pembenihan ikan tambakan dapat efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Heru Susanto. 1999. Budidaya Ikan di      Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Mashudi, Ediwarman dan Maskur. 2001. Pemijahan ikan tambakan (Helostoma temmincki). Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Jambi





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar